Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Diploma

Perjuangan tiga tahun kuliah di kampus merah Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta telah berakhir. Yap, tanggal 29 bulan Agustus tahun 2013 gw resmi lulus sebagai ahli madya manajemen industri melalui sebuah sidang komprehensif yang lumayan membuat otak gw ngebul. Banyak hal yang gw rasain selama menyusun tugas akhir. Satu hal yang gw pelajari bahwa setiap orang memiliki tantangannya masing-masing. Ada yang dapet dosen pembimbing baik banget, tapi dianya malah santai banget. Ada juga dianya punya semangat menggebu-gebu tapi dospemnya gak asik. Terus gw masuk kategori yang mana?

Mungkin gw kombinasi keduanya. Gw punya semangat yang membara ditambah dosen pembimbing gw yang bener-bener menjalankan tugasnya sebagai pembimbing. Bahkan beliau juga bertindak sebagai motivator gw karena kadangkala di sela-sela bimbingan, beliau memberikan gw kata-kata motivasi. Tapi seperti yang udah gw bilang di atas kalau setiap orang punya tantangannya sendiri, termasuk gw. menyusun Tugas Akhir sambil menyelesaikan Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan LEM itu bukan perkara mudah. Gak usah gw jelasin deh ya gimana perjuangan gw itu. Yang pasti gw udah membuktikan kepada semua orang bahwa gw mampu.

Lulus dengan nilai A mungkin buat sebagian orang biasa aja. Gak salah sih, tapi kalau gw sendiri, gw merasakan hal yang berbeda. Selama ini gw selalu berkata pada diri gw kalau semua orang pada dasarnya mampu melakukan berbagai macam hal secara bersamaan, bahasa kerennya sih multitasking. Makanya gw berani mengambil tanggung jawab sebagai Staff Sekretaris Umum Bagian Administrasi Lembaga Eksekutif Mahasiswa disaat gw masuk tingkat akhir dan gw pun sadar ketika gw harus dihadapkan pada kewajiban akademis gw membuat Tugas Akhir. Sekarang hipotesis gw terbukti. Gw berhasil menyelesaikan keduanya dengan baik. LPJ selesai, TA pun selesai. Dan yang lebih membanggakan adalah gw adalah angkatan 2010 yang pertama lulus di program studi Manajemen Keuangan. Bangga.

Bukan bangga atas kelulusan gw dan memandang rendah orang-orang yang masih berjuang dengan TA mereka, justru gw bangga dengan diri gw sendiri karena gw berhasil memberikan sebuah pembuktian bahwa gw mampu. Ya memang sih gak mudah, butuh kerja keras banget-banget. Makanya, malu dong kalo bikin TA masih males-malesan sedangkan lo gak punya tanggung jawab lain selain kuliah dan bikin bangga orang tua di rumah.

Sekarang, gw adalah seorang diploma. Hal yang membuat gw makin sadar akan tanggung jawab gw kepada diri sendiri adalah sebuah percakapan saat gw minta tanda tangan dosen pembimbing gw buat lembar pengesahan sidang komprehensif.

Gw: “pak, gimana sidang saya kemarin?”

Dospem: “lumayan, yang penting saudara bisa memberikan argumen untuk meyakinkan penguji. Mempertahankan apa yang saudara tulis itu udah lebih dari cukup. Masih banyak yang jauh lebih buruk dari saudara.”

Gw: “saya pasrah pak, dikasih nilai apa aja, yang penting saya udah usaha semampu saya. Pertanyaan penguji juga diluar perkiraan semua. Tapi Alhamdulillah bisa dapet A.”

Dospem: “iya, tapi saudara juga mesti ingat. Nilai A itu bukan sebuah jaminan kesuksesan, nilai B juga bukan sesuatu yang hina. Adakalanya seseorang menguasai bidang tertentu tapi malah dia mendapatkan nilai B, tugas dia adalah meyakinkan orang lain bahwa ia sebetulnya mampu. Dan orang yang mendapatkan nilai A, bagaimana dia mampu mempertanggjungjawabkan nilai tersebut di dunia kerja.”

--- hening---

Dospem: “ini bukan akhir, tapi ini adalah awal dari pintu kesuksesan saudara. Jalan saudara masih panjang. Masih panjang jalan terjal yang harus saudara lewati untuk sukses di bidang yang saudara sukai. Masing-masing punya minat yang berbeda. Pokoknya semoga sukses deh.”

Yah itulah sepenggal kisah perjalanan hidup gw. Masing-masing orang punya cerita hidupnya. Bangga dengan kehidupan sendiri adalah salah satu hal yang membuat kita bisa diterima oleh lingkungan. Gak akan ada yang mau berteman dengan orang yang putus asa. 

Commitment

Sumber: Google
Assalamu alaikum wr, wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Cukup lama gw mengabaikan blog gw ini, hampir satu tahun sejak postingan terakhir gw share ke publik. Memang, satu tahun terakhir ini gw merasa hari-hari gw sungguh monoton. Kegiatan kuliah dan organisasi menyita waktu gw ‘banget’

Commitment (Komitmen)
Kali ini gw akan membahas tentang komitmen. Masih ada benang merah dengan cerita satu tahun belakangan yang membuat gw kehilangan kesadaran untuk menulis. Untuk pengertian secara leterlek atau etimologi silakan cari sendiri ya. Karena sesungguhnya gw secara spontan aja menulis judul demikian.

Setelah gw demisioner dari kepengurusan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) periode 2011-2012 gw kembali dihadapkan pada kegamangan. Sebenarnya sebelum gw mendengar ketukan palu sidang paripurna, gw udah direkrut sama Rudi, ketua Umum LEM yang baru buat bantuin dia. Masuk LEM lagi gitu lah, tapi gw udah nolak karena gw merasa pengabdian gw di LEM (saat itu) udah cukup. Gw mau menikmati masa-masa gw sebagai mahasiswa seperti awal-awal kuliah. Ya, sebut aja kuliah, belajar kelompok, main, ujian, lulus. Flat banget emang sih.

Singkat cerita setelah gw demisioner beberapa menit kemudian gw kembali diajak ngobrol serius di angkringan depan kampus sampai jam 12 malem kalo gak salah. Dengan berbagai pertimbangan selama 2 minggu akhirnya gw mengIYAkan. Saat itu jadilah gw seorang Staff Sekretaris Umum Bagian Komunikasi dan Informasi.

Awal-awal masa pengabdian gw dalam kepengurusan yang baru sebenarnya gak banyak yang gw lakukan. Gw cuma cari temen dan melanjutkan pekerjaan gw dari kepengurusan sebelumnya, karena pada kepengurusan sebelumnya gw dipercaya menjabat sebagai Ketua Departemen Komunikasi. Satu kebanggaan dari diri gw karena dalam kepengurusan 2012-2013 gw berhasil membuat sebuah website sederhana www.lem-app.com hihi..

Seperempat perjalanan, terjadi reshuffle. Gw ditempatkan sebagai Staff Sekretaris Umum Bagian Administrasi dan Rumah Tangga. Sedangkan partner gw di kominfo ditempatkan sebagai sekretaris umum. Gak masalah sih buat gw, karena gw berpikir saat gw udah mengucapkan janji gw sebagai pengurus, maka segala kebijakan ketua umum adalah resiko buat gw. Tantangan juga sih, walaupun gw merasa jabatan itu terlalu berat buat gw, terlebih gw mahasiswa tingkat akhir yang akan fokus untuk TA.

Saat gw menerima SK pengangkatan gw sebagai staff admin, kondisi LEM agak kurang baik. beberapa pengurus yang menghilang entah kemana, tapi gw percaya bahwa kondisi kaya gini gak akan berlangsung lama karena masih banyak pengurus yang berkomitmen melanjutkan tanggung jawab mereka. Seiring berjalannya waktu gw tau kalau gw naif.

Beberapa waktu berlalu, keadaan semakin parah. Yang masih punya komitmen Cuma beberapa orang. Program kerja pun berjalan seperti dipaksakan. Gw pun terkena dampaknya. Pekerjaan gw terbengkalai, surat-surat berantakan, rapat males-malesan. Terbesit dalam benak gw buat mengundurkan diri dari tanggung jawab ini tapi hati kecil berkata “bukan ini yang gw cari.” Gw mencoba bertahan dalam keadaan yang kurang baik sampai akhir kepengurusan, karena gw udah mengucap sumpah waktu pelantikan. Walau perjuangan gw selama satu periode ini penuh air mata.

Gw gak punya temen buat berbagi penderitaan. Semua teman-teman gw apatis dengan organisasi, walaupun mereka dulunya aktif dalam kegiatan-kegiatan kek gini. Gw selalu berusaha buat tertawa, walaupun pikiran gw pusing luar biasa. Mereka mengecilkan LEM, gw hanya bisa tersenyum, karena keadannya memang demikian. Gw yang bodoh saat itu (mungkin).

Tanggung jawab gw cukup berat, gw harus menghandle seluruh kegiatan administrasi (surat masuk, surat keluar, surat keputusan, surat mandat), memeriksa proposal kegiatan dan LPJ seluruh Senat Mahasiswa dan internal LEM sendiri, notulensi rapat, pengendalian inventaris, dll. Itu gw lakukan semuanya sendirian.

Kenapa sih lu mau gabung lagi di LEM padahal lu udah tau gimana keadaannya periode kemaren?
Gw cuma mau memberikan sesuatu buat kampus di saat terakhir gw jadi mahasiswa. Sesuatu yang bermanfaat. Gw mau di saat gw udah lulus, ada hal-hal yang bisa jadi kenangan buat adik-adik angkatan gw. Selain gw orangnya gak tegaan kalo ngeliat temen yang minta tolong, sebisa mungkin ya gw bantu. Dalam hal ini Rudi. Satu hal lain adalah gw yakin keadaannya akan berbeda. Gw percaya orang-orang yang bergabung adalah orang-orang hebat yang mampu menciptakan atmosfer organisasi yang baru.

Semua orang udah gak peduli sama tanggung jawab mereka, kenapa lu masih mau bertahan?
Gw cuma punya satu alasan, TANGGUNG JAWAB. Gw selalu berkata kepada diri gw kalau semua keputusan gw adalah sebuah prinsip. Saat gw udah mengatakan: “oke, gw bersedia” maka gw punya tanggung jawab moral untuk mempertahankan prinsip gw sampai tiba waktunya untuk mengakhiri tanggung jawab itu. Gw benci pada mereka yang meninggalkan tanggung jawab dengan seenaknya. Tapi apakah gw harus benci pada diri gw sendiri kalau gw melakukan hal itu??

Pada awal pelantikan gw udah mengucap sumpah dengan menyebut asma tuhan. Sebuah sumpah yang menurut gw bukan hanya seremoni protokoler saja, tapi itu adalah janji kita kepada tuhan atas tanggung jawab ke depan. Gw gak mau karena kegoisan gw di dunia, justru gw harus mempertanggungjawabkan sumpah gw di akhirat.

Gw sering mendengar bahwa tuhan tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Apakah ini sebuah ujian dari tuhan? Jika iya, gw yakin tuhan akan mengangkat gw ke derajat yang lebih tinggi apabila gw mampu melewatinya. Ujian untuk itu bukan?

Kemudian gw merasa, kalau tanggung jawab ‘segini’ aja gw udah menyerah bagaimana untuk tantangan ke depan. Kita sebagai manusia sudah diberikan mandat untuk menjalani kehidupan ini dengan segala tantangannya. Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan kita esok. Gw yakin tanggung jawab yang akan membuat kita kuat, tanggung jawab yang akan membuat kita semakin belajar, menemukan hal-hal baru dan pemecahannya. Yang terpenting apakah kita cukup kuat untuk survive dalam hantaman gelombang? Apakah kita masih punya cukup komitmen untuk meneruskan visi yang kita susun sendiri?

Gw sering berpikiran picik dengan teman-teman di bidang yang meninggalkan gw sendiri, meninggalkan tanggung jawab mereka dan menjadikan gw seakan-akan sebagai tumbal. Roda itu berputar, saat gw sekarang adalah mahasiswa tingkat akhir yang berperan ganda membantu menjalankan pemerintahan mahasiswa di kampus, saat itu juga mereka yang masih tingkat II menghilang entah kemana, tahun depan kalian akan merasakan jadi mahasiswa tingkat III. Semoga kalian diberikan kemudahan dalam menyusun Tugas Akhir.

Gw gak pernah menyalahkan mereka atau benci dalam artian nyata kepada mereka kok, gw yakin mereka juga punya cukup alasan yang kuat dan gw orang yang ‘gak tau apa-apa’ cukup jadi audiens. Gw hanya kecewa karena pada awal kepengurusan kita selalu mengikrarkan bahwa kita keluarga. Ya, gw hanya kecewa karena keluarga gw tega menginggalkan tanggung jawabnya dan menjadikan gw seakan-akan sebagai tumbal.

Kini semua telah berakhir. Gw berhasil menyelesaikan tanggung jawab gw di LEM dan tanggung jawab akademis gw. Perjuangan menyusun TA sambil menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) bukan hal yang mudah. Untungnya teman-teman BPH (Badan Pelaksana Harian) masih solid sampai akhir kepengurusan. Gw salut dengan mereka, mereka yang memotivasi gw untuk semangat manjalani tanggung jawab ini dan berkomitmen untuk menyelesaikannya.


LPJ Lembaga Eksekutif Mahasiswa (kerjaan gw)

Tugas Akhir gw


Ketukan palu 3x sebagai pengesahan diterimanya LPJ LEM dalam sidang paripurna pertanggungjawaban adalah jawaban atas doa-doa yang gw panjatkan selama ini. Sulit dipercaya akhirnya gw bisa demisioner, tanggung jawab gw selesai. Rasanya beban-beban di pundak lenyap seketika. Air mata itu pun berdesakan ingin menampakkan wujudnya. Haru. Satu faktanya adalah ketika peserta sidang saling berjabat tangan, gw sama sekali gak mau bersalaman apalagi berpelukan sama ex Ketua Umum gw, gw takut air mata yang gw tahan-tahan malah bocor di tempat. Karena ia paling tau bagaimana kondisi pengurus LEM dan bagaimana perjuangan gw selama satu periode. Gw malah menyibukkan diri bersalaman dengan peserta sidang yang lain.

Komitmen adalah konsistensi kita sebagai manusia. Tidak ada yang dapat dipercaya sepenuhnya dari apa yang terucap dari bibir seseorang, tapi aksi nyata dalam sebuah tanggung jawab atau komitmen adalah hal lain yang dapat orang nilai dan diakui. Tidak semua manusia bisa menjadi juara pertama memang, tapi gw yakin usaha-usaha terbaik yang kita lakukan akan memberikan dampak positif bagi diri sendiri.

Do your best!!!. Lakukanlah apa yang masih dapat kau lakukan. Walau tak banyak memberikan perubahan, namun dengan kegigihan dan kerja keras maka akan ada pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang membuat kita semakin cerdas. 

Orang Gila Masuk Rumah

Izinkan gw bercerita apa yang gw alamin pagi ini (06/04). Gak usah pake bahasa baku yah, gw bosen nulis pake bahasa baku melulu. Pekerjaan yang menuntut gw demikian. Oke, abaikan. Pagi yang cerah, kerjaan rumah juga udah beres, jadi yang gw lakuin cuma nyantai-nyantai sambil dengerin lagu pake headset. Lagi asiknya gw dengerin suaranya om Glenn Freddly, tiba-tiba seorang pemuda ngetok pintu rumah gw sambil ngucapin salam. Karena gw pikir dia orang kontrakan yang baru pindah, makanya gw langsung bangun terus gw jawab salam dia. Tanpa babibu dia langsung masuk dan menjabat tangan gw. Sekali lagi gw gak menaruh curiga sama orang itu. Setelah dia manjabat tangan gw, dia langsung masuk dan duduk di ruang tamu gw tanpa gw suruh dan dia minta asbak. Dari situ gw mulai ngerasa ada yang gak beres sama nih orang. Gw kasih lah tuh asbak.

Di atas meja ruang tamu gw ada penggaris panjang bekas gw ngerjain tugas, sama koran yang abis gw baca. Orang itu langsung ngambil penggaris gw terus diterawang ama dia (kaya orang ngecek uang palsu) taplak meja gw juga diberantakin. Gw mulai sadar kalo itu orang gak waras alias orang gila. Gw masih biasa aja. Masih ada keberanian dalam diri gw buat nyuruh dia keluar. Waktu gw mendekat, berniat nyuruh dia keluar, dia ngomong pake bahasa jawa yang GUA GAK NGERTIIII!!!!  Disitu nyali gw mulai menyusut.

Gw gak ngerti apa yang dia omongin. Sumpah gw gak ngerti bahasa jawa. Gw berpikir jangan-jangan dia orang pura-pura gila yang berniat jahat di rumah gw. Karena akhir-akhir ini banyak orang gila berkeliaran di daerah rumah gw. Mungkin aja mereka satu komplotan yang terorganisasi buat mata-matain rumah gw. Bisa aja kan??

Gw udah mau ngelangkah ke dapur buat ngambil tongkat kayu yang biasa dipake bokap gw getok kecoa, tapi gw pikir kalo gw ke dapur terus apa yang ada di pikiran gw itu bener, gw bisa bahaya. Biasa aja kan pas gw ke dapur terus dia ngikutin gw, nodong gw pake senjata tajam yang udah dia bawa buat nyerahin barang berharga yang ada di rumah gw. Opsi kedua adalah ke kamar buat ngambil sapu lidi yang emang sengaja ditaro nyokap gw gak tau buat apaan. Siapa tau kalo dia ngeliat gw bawa sapu lidi, dia bisa takut terus pergi. Tapi lagi-lagi gw urungkan karena gw takut dia ngikutin gw, nodong gw, terus ngambil laptop gw yang ada di kamar. Aduuuh, itu LPJ gw ada di laptop, belom selesai gw beresin. Terus gimana dong?

Akhirnya gw cuma diem di tembok samping pintu kamar gw (yang udah pernah ke rumah gw pasti tau). Sambil dengerin dia ngoceh apa. Sayangnya gw gak ngerti apa yang dia omongin. Bisa aja kan firasat gw bener. Dan yang diomongin ama dia adalah kalimat ancaman. “serahin barang-barang berharga yang lo punya, atau lo bakal nyesel dan jangan tereak.” Bisa aja kan?? Karena gw lagi sendirian di rumah dan gw GAK NGERTI BAHASA JAWA. Plis ya mas.

Ditengah kegamangan hati gw, bukannya nelpon tetangga kek, pak RT kek, ato pemadam kebakaran, padahal gw lagi megang hp, yang gw lakuin adalah update status. Koplak gak sih gue?? -_-


Merasa dicuekin (mungkin) dia mendekat ke arah gw, eitss.. Mau ngapain lo?? Macem-macem gw hajar lo. Gw gak tau lo orang gila beneran apa pura-pura gila. Oh, ternyata dia minta duit. Gw baru merhatiin tangannya ternyata nadah. Ngeliat di samping foto adek gw di ruang tamu ada recehan, mata tuh orang gila beralih ke recehan disana. Ada dua keping Rp 100,- sama satu keping Rp 200,- setelah memilah mana yang terbaik, akhirnya dia mengambil satu keping uang Rp 200,-

Merasa udah dapet apa yang dia pengen, dia ngajak gw salaman lagi terus langsung keluar. Gw nganterin dia sampe pintu, secara gak sadar gw ngikutin dia. Ternyata di luar tetangga gw udah pada berkerumun sambil ngeliat orang gila keluar dari rumah gw dengan wajah sumrigah. Sedangkan gw, masih shock, ekspresi muka datar, tangan masih gemeteran. Gw shock ternyata dia orang gila beneran. Masuk rumah gw, duduk di bangku gw, dan gw sempet niat buat ngajak dia ngobrol sebelum gw sadar kalo dia orang gila. Sayangnya gak sempet gw foto sih ah..

Gw ngeliat mereka sebentar terus gw masuk, kunci pintu. Gw ngintip dari jendela tetangga gw mulai membubarkan diri. Gw langsung rebahan di kamar, tenangin diri. Huftt.. Hari yang berkesan.

Saran dari gw nih ya, selalu waspada aja deh, apalagi kalo lagi sendirian di rumah. Kalo orang gila beneran sih mending, lha kalo orang gila-gilaan?? Maksud gw pura-pura gila?? Kan bahaya tuh.


Follow me on twitter: @Zukhuu

Berawal dari Iseng

Ya, semua ini bermula dari keikutsertaan gw jadi panitia pelaksana alias organizing commite (OC) Konferensi V. keikutsertaan gw sebenernya cuma iseng aja buat mengisi waktu liburan yang cukup lama. Awalnya waktu Reza sms gw tengah malem buat ngajak gw jadi OC, gw males. Ngapain sih jadi OC segala, pasti bakalan sibuk sama rapat. Tapi setelah gw pikir-pikir akhirnya gw bersedia karena gw emang butuh kesibukan di waktu liburan gw ini yang akhirnya membuat gw sibuk berkepanjangan. Oke, tugas gw sebagai OC ya udah pasti rapat, rapat, dan rapat. Reza bilang gini: “lu gw jadiin OC freelance, jadi lu gw kasih kebebasan buat gak ikut rapat.” Hei, nenek-nenek pake behel juga gak bakal percaya. Mana ada panitia yang rapat semaunya. Gw tau ini cuma buat manipulasi gw aja supaya gw bilang oke, tapi gw bersedia bukan karena itu ya.. Seiring berjalannya waktu, karena beberapa hal akhirnya gw ditugaskan sebagai koordinator divisi HPD oleh bapak ketua Reza Mahardhika.

Gw gak bakal bercerita gimana sepak terjang gw sebagai OC Konferensi. Eaaaa.. hahaha.. bisa baca disini ajah: http://bit.ly/nlxdiU

Ternyata dari kepanitiaan konferensi itu gw dapet banyak pengalaman dan teman baru. Gw jadi lebih mengenal apa itu KMMI dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Selama ini gw hanya mengenal nama tanpa tau muka. Gw juga tau tentang isu-isu yang sedang hangat di kampus yang orang lain belum tentu tau, ya karena gw jadi OC. Dan yang bikin gw gak percaya adalah selepas acara konferensi gw direkrut buat mengisi kepengurusan Lembaga Eksekutif Mahasiswa. Waw, amazing banget. Siapa gw dan apa kemampuan gw yang bikin mereka yakin buat narik gw di LEM bidang VI (informasi dan komunikasi).

Usut punya usut dipilihnya nama gw karena kemampuan gw di bidang blogging. Karena rencananya LEM tahun ini mau bikin blog buat menyebarluaskan informasi. Ternyata kemampuan kecil gw bisa membawa gw ke titik ini. Yang biasanya gw nge-blog buat kepentingan pribadi yang isinya gak penting sekarang gw nge-blog dengan konten yang penting. Hahahaha…

 
acara pelantikan

Resmi sebagai pengurus LEM, nama gw tercetak di buku pedoman fopma lho. Hahahaha..
Sampe sekarang gw masih gak percaya dengan tanggung jawab gw yang baru. Dari dulu sobat gw Aul udah minta gw buat masuk di BADKO sebenernya, setiap gw ketemu dia, pasti ngomongin soal itu sampe gw selalu menghindar kalo ngeliat dia jadi kejauhan. Gw bersikeras menolak. Alesannya sih cuma satu, karena gw gak pede.

Terus kenapa gw bersedia jadi pengurus LEM?
Ya, mungkin gw baru dapet hidayah sekarang, gw pengen kemampuan gw yang secuil ini bisa bermanfaat bagi orang lain. bukan bermaksud sombong, tapi semoga dengan kalian baca tulisan gw ini bisa memberikan sedikit motivasi kalo tuhan memberikan kita segudang kemampuan tinggal kita yang memaksimalkan kemampuan itu sesuai minat kita. Dan kemampuan yang acapkali dianggap gak penting, kecil, kadang kita sendiri gak sadar, ternyata bisa memberikan kontribusi yang positif buat orang lain. semoga gw bisa bertanggung jawab dengan tugas ini, doakan saya yah. :)


Follow me on twitter: @Zukhuu

Pengalaman jadi OC Konferensi


Konferensi adalah forum tertinggi di lingkungan KMMI APP. Konferensi tahun ini adalah konferensi ke 5, oleh karena itu forum ini diberi nama Konferensi V KMMI APP. Dalam acara akbar ini, gw bertugas sebagai Organizing Commite atau yang biasa disingkat OC. Dibawah pengawasan Lembaga Legislatif Mahasiswa, kami para OC bertugas menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan secara teknis demi kelancaran acara ini. Kebetulah gw bertugas dalam divisi HPD. HPD adalah singkatan dari Humas Publikas dan Dokumentasi.

Banyak pro kontra dalam lingkungan KMMI sendiri tentang penyelenggaraan konferensi ini, maka tugas gw yang pertama adalah membuat sebuah blog yang isinya menjawab berbagai permasalahan, isu, dan tanggapan miring dari berbagai pihak yang tidak menyetujui adanya konferensi. Bisa dilihat di sini.

Gw bikin blog di kostan reza sampai tengah malam dan Alhamdulillah tanggapannya positif. Dibuktikan dengan grafik statistik dan page views  yang terus naik.  Gw juga bertugas bikin pamflet dan poster sebagai media publikasi. Belum cukup disitu, gw juga harus ngirim sms ke semua anggota KMMI (semua anak APP) yang isinya informasi tentang adanya konferensi, tapi kali ini gw dibantu sama Ayu n Achi.
 pamflet bikinan gw

Hari H konferensi
Hari pertama, awalnya adem ayem aja. Gw punya firasat gak enak waktu gw ke lembaga buat ngambil laptop. Disana gw ketemu kumpulan anak salah satu UKM yang lagi ngumpul di depan sekret mereka, rame banget. Dan kerusuhan dimulai saat alumni APP sekaligus ketua komisi XI DPR RI naik ke podium buat orasi ilmiah. Salah seorang oknum (kami manggilnya saudara peninjau)yang ‘agak kurang’ punya etika berteriak-teriak menghujat anggota DPR itu. Sontak beliau marah dan dengan dibantu keamanan, saudara peninjau itu ditarik keluar.

Malam harinya acara kembali ricuh. Pelaku utamanya masih sama. Penyebabnya karena pimpinan sidang menyekorsing sidang sampai esok hari kerena waktu sudah lewat dari jadwal padahal keputusan belum didapat. Chaos tak bisa dihindari, padahal waktu sudah menunjukan pukul 00:30 WIB. Pimpinan sidang diamankan di sebuah tempat rahasia. Gw keluar auditorium buat ngambil foto dan gw kaget karena disana sudah berkumpul banyak orang yang gak tau dari organisasi mana aja. Karena pimpinan sidang menghilang konsekuensinya para OC ditahan dikampus. Tak satupun dari kami yang boleh pulang padahal kami sudah sangat lelah.

chaos di dalam Auditorium

Saat ricuh, gw dengan pedenya ngambil foto dan saudara peninjau itu marah. “hei, dari tadi foto-foto melulu.”
Kembali dengana pedenya gw bilang: “gw HPD.” Tapi gw langsung ngacir ke back stage karena gw takut dia marah dan merebut kamera pinjaman yg gw pake buat foto-foto -___-

Gw lupa jam berapa pimpinan sidang akhirnya balik lagi ke kampus buat menyelesaikan pertikaian ini, akhirnya mereka dengan organisasi yang mengepung aula itu melakukan konsolidasi di depan perpustakaan. Gw sih berharap saudara peninjau dan kaki tangannya itu diisengin tante dan om penunggu perpustakaan tapi taunya enggak, yah sayang sekali.

Perbincangan itu terus berlanjut sampai pukul 04:00. Selama itu kami para OC harus menunggu dan tidur di emperan auditorium udah kaya korban bencana alam. Otomatis kami sahur dengan lauk seadanya dan segelas air mineral. Sungguh menderita. 



Itulah pengalaman gw jadi OC konferensi. Acara yang masih jadi polemik dan kontroversi di lingkungan KMMI APP. Tapi ambil positifnya aja, dengan ini gw jadi tambah temen n tambah pengalaman pastinya, jadi hidup gw gak datar-datar amat.

Sekian dulu pengalaman gw jadi OC konferensi. Masih banyak hal menarik yang gak akan gw lupain tapi sukup segini aja yang gw bagi.

See ya..

Pengalaman Kolaboralis

Sedikit cerita tentang pengalaman gw ikut kolaboralis semalem. Apaan tuh kolaboralis? Kolaboralis itu adalah akronim dari kolaborasi menulis. Jadi kita sesama penulis diberikan kesempatan menciptakan sebuah cerita yang baru dengan berkolaborasi bersama beberapa penulis. Masih bingung yah? Jadi gini. Peserta dibagi dalam beberapa tim, nah masing-masing tim itu diwajibkan menciptakan sebuah cerita tapi nulisnya gantian. Tiap anggota punya kesempatan buat nulis satu paragraf terus dilanjutin lagi sama anggota tim yang lain sampai membentuk sebuah cerita yang unik.

Kok bisa?

Ya, awalnya juga gw ragu apa gw bisa, mengingat  kualitas tulisan gw yang standar baget. Tapi gw dengan pedenya mengajukan diri sebagai peserta itung-itung sambil belajar. Kan gak masuk penjara ini.

Gw masuk dalam tim biru, Cuma berdua. Terlebih lagi gw harus menciptakan sebuah tokoh dari sudut pandang perempuan. What?? Apa yang mesti gw tulis? Tambah bingung dah gw. Tapi ya sudahlah nikmati aja, ini tantangan dan ternyata seru juga. Gw berkewajiban mengimbangi tulisan partner gw yang  kalo boleh gw bilang WAW supaya jadi cerita yang ‘nyambung.’ Sedangkan tulisan gw?? Hmmmm.. Muka tembok deh, dia gak kenal gw ini. Hahaha.. Yang penting gw udah mengerahkan seluruh kemampuan dan imajinasi yang gw punya.  

Oh iya lupa, kolaboralis ini diadain sama @nulisbuku. Peserta kolaboralis menuangkan idenya secara online pake google docs. Apaan lagi tuh? Ya begituan deh, jadi itu kaya semacem layanan dari google buat bikin dokumen. Tampilannya sih mirip-mirip kaya ms.word jadul dan pertama kalinya gw pake yang begituan. Hahaha.. norak deh.


Semua hasil karya diposting di blognya @nulisbuku termasuk karya gw. Eh maksudnya karya kami. Buka aja link ini 

Oke, sekian dulu cerita pengalaman gw. Kapan-kapan mau ikutan lagi aaah.. selain bisa belajar, kita bisa nambah temen lho.

follow me on twitter: @Zukhuu

Pengalaman Nyasar

Lupakan sejenak tentang cerbung, mari simak cerita tentang pengalaman gw beberapa hari yang lalu. Tapi kalian tak perlu cemas, gundah gulana, ataupun galau. Karena gw tetap akan meyelesaikan cerbung gw yang belum tuntas jalan ceritanya.

Tes. Tes.. (ceritanya ngetes microphone)
Gw akan menceritakan pengalaman gw beberapa hari yang lalu, semoga dapat dijadikan pelajaran bagi kalian, supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Saya tak ingin pembaca sekalian mengalami hal serupa dengan saya. Oke, ini terjadi pada tanggal 18 Februari 2011 hari Jumat dan bertepat dengan 15 Rabiul Awwal 1432H.

Hari jumat adalah hari wajib gw untuk datang ke sekolah. Madrasah Aliyah Negeri 7 jakarta tercinta. Jalan Binawarga 99, Srengseng Sawah Jagakarsa Jakarta Selatan. Meski gw udah berstatus mahasiswa tapi gw akan pernah melupakan sekolah gw tercinta yang telah membesarkan nama gw seperti sekarang ini, terutama pada bapak dan ibu guru yang telah berjasa mendidik gw hingga memiliki ilmu pengetahuan dan akhlak yang niscaya akan sangat berguna bagi gw dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia global ini. *halah..

--- skip ---

Ya, intinya gw ke sekolah untuk mengajar.
Tanya: “Ngajar apaan mi?”
Jawab: “ngajar sains club kimia.”
Tanya: “lah, bukannya lu anak manajemen keuangan.”
Jawab: “lah, gw mah multi talent.”

--- daripada makin gak jelas mending di skip ---

Hari jumat yang cerah pada awalnya, namun tiba-tiba hujan deras tanpa permisi menghantam suasana ceria itu, memaksa kami (gw, Nida, dan Iin) tinggal lebih lama di sekolah sambil menunggu hujan reda. Selang beberapa lama, akhirnya hujan pun reda, hujan yang amat mengerikan, seakan-akan butiran air itu mengejar kami, seperti senjata ninja yang digunakan untuk menghabisi musuh.

Hujan reda, saatnya pulang. Rasa penasaran gw ingin melihat rumah anggota DPRD depok akhirnya gw mengantar Nida sampai pintu rumahnya. Daerah perumahan Maharaja Sawangan. Tidak berlama-lama, akhirnya gw pamit pulang karena gw hanya ingin melihat rumah wakil rakyat penghuni gedung DPRD Depok. Konon katanya, ayahnya Nida temen gw ini anggota DPRD Depok lho.

Daerah Sawangan yang macet akhirnya memaksa gw mencari jalan alternatif lain. Selain menghindari macet, juga untuk menghindari Anggiet. Apaan tuh Anggiet? Anggiet adalah temen gw. Gw lagi berantem ceritanya, tapi dia mengajak gw reunian. Gw khawatir pada saat gw sampai rumah, dan orang itu sudah siap sedia menjemput gw dengan motor varionya yang berkelap kelip seperti komedi putar di pasar malam. Gw malas ikut, oleh karena itu gw agak mengulur waktu untuk sampai di rumah. Supaya teman gw itu mengurungkan niatnya untuk menjemput gw karena gw belum pulang.

Tapi ini malah jadi bala buat gw. Gw membelokkan si revo ke arah mampang, dengan tujuan tembus di daerah jagakarsa dan menghindari sawangan yang macet. Rutenya kurang lebih begini nih:

gw belok ke arah Mampang

Gw merasa sudah mengenal jalanan itu karena sudan beberapa kali lewat. Namun godaan wanita membuat gw lupa segalanya. Saat gw asik memacu motor gw dengan santai, terdengar bunyi klakson mobil dari belakang, dan gw pun langsung menepi untuk memberikan kesempatan mobil itu mendahului gw. Mobil itu ternyata adalah angkot yang berisi wanita-wanita cantik. Emang dasar usil, mereka memerhatikan gw dengan pandangan yang berbeda. Merasa diperhatikan, gw pun akhirnya mendahului angkot itu dan berjalan di depannya. Beberapa saat kemudian angkot itu mendahului gw lagi. Sengaja banget kayanya. Wanita-wanita itu terus memerhatikan gw sambil melontarkan senyuman mautnya. Sambil tersenyum, salah satu dari mereka menggambar love di kaca. Ge er donk gw. Secara tampang gw juga lumayan. Hehehe..


foto-foto narsis Gw. hehehe.. :p

Gw merasa dikerjain, akhirnya gw mengambil jalan yang berbeda dengan angkot itu, dengan harapan gw akan memotong jalan dan kembali ke jalan yang benar untuk sampai ke jagakarsa. Gw sebenarnya sama sekali gak kenal arah mana yang gw ambil tapi gw yakin kalau gw pasti akan menemukan jalan yang benar. Namun semua itu salah. Jalan itu lurus tanpa ada jalur lain, semakin lama, semakin jauh, dan semakin sepi. Gw terus berjalan tanpa tau arah, dan gw baru menyadari kalau gw sedang tersesat. Jalan yang amat rusak dengan genangan air dimana-mana.

Menjelang maghrib, akhirnya gw bertemu dengan wanita yang sedang mengendarai mio. Pikiran gw langsung melayang ke lagunya SKJ 94 yang skutermatic. Sambil berdendang dalam hati, gw melihat SMAN 6 depok. YES! Jalan raya juga akhirnya, gw bisa pulang. Ingat kata changcuters, wanita itu racun dunia. Ada benarnya saat itu, gw mengikuti wanita itu padahal sebenarnya arah yang dia ambil bertolak belakang dengan arah gw pulang.

kaki: arah gw berjalan


Gw baru menyadari gw semakin tersesat saat gw berjalan sangat jauh, mungkin dari terminal depok sampai kalibata. “Kok gak ada ujungnya nih jalan?” pikir gw. Iseng gw melihat apotek, disana tertulis ‘cinere ujung’ HAH?? Makin nyasar donk gw? Akhirnya gw memutuskan buat menepi dan bertanya ke pedagang asongan kemana arah yang benar menuju sawangan. Dan benar dugaan gw, gw salah arah. Sedih rasanya, jangan sampai gw meninggal di jalanan karena tersesat. Bisa masuk on the spot trans 7 nanti.
Tanpa berlama-lama akhirnya gw putar arah, melewati jalan yang tadi gw lewati. Berjalan, memacu motor gw lebih cepat karena gw tidak mau kemalaman di daerah yang sama sekali gw gak kenal.

akhirnya gw memilih jalan yang benar


Bertemu lagi dengan SMAN 6, hati gw sedikit lega, melewati masjid kubah emas, makin lega, dan akhirnya gw berada di pertigaan parung bingung. Jalan pulang di depan mata, namun lagi-lagi mata gw dibutakan oleh wanita. Melihat wanita muda mengendarai motor matic denga rambut yang tergerai tertiup angin mengingatkan gw dengan iklan shampo di televisi. Daaan, gw salah ambil arah lagi. Gw malah mengikuti wanita itu. 

kembali salah arah


Sadar gw salah arah lagi akhirnya gw putuskan untuk beristirahat di SPBU sekedar untuk meregangkan otot dan sholat maghrib. Meminta petunjuk kepada Allah.

Gw bertanya kepada orang disana, kemana arah sawangan? Akhirnya gw diberi tau dan memang benar, gw salah arah lagi. Selesai sholat, gw segera meluncur ke arah yang benar
arah yang benar

Akhirnya gw kembali ke depok 1 dan berhasil melihat kembali foto bapak Nur Mahmudi (walikota depok) yang terpampang di baliho samping lampu merah fly over Arief Rahman Hakim. Akhirnya gw sampai dirumah. Perasaan gw saat sampai di pintu rumah: lega. Bagaikan petualang yang tersesat di hutan rimba dan berhasil menemukan jalan pulang. 



    Pengikut