Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Diploma

Perjuangan tiga tahun kuliah di kampus merah Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta telah berakhir. Yap, tanggal 29 bulan Agustus tahun 2013 gw resmi lulus sebagai ahli madya manajemen industri melalui sebuah sidang komprehensif yang lumayan membuat otak gw ngebul. Banyak hal yang gw rasain selama menyusun tugas akhir. Satu hal yang gw pelajari bahwa setiap orang memiliki tantangannya masing-masing. Ada yang dapet dosen pembimbing baik banget, tapi dianya malah santai banget. Ada juga dianya punya semangat menggebu-gebu tapi dospemnya gak asik. Terus gw masuk kategori yang mana?

Mungkin gw kombinasi keduanya. Gw punya semangat yang membara ditambah dosen pembimbing gw yang bener-bener menjalankan tugasnya sebagai pembimbing. Bahkan beliau juga bertindak sebagai motivator gw karena kadangkala di sela-sela bimbingan, beliau memberikan gw kata-kata motivasi. Tapi seperti yang udah gw bilang di atas kalau setiap orang punya tantangannya sendiri, termasuk gw. menyusun Tugas Akhir sambil menyelesaikan Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan LEM itu bukan perkara mudah. Gak usah gw jelasin deh ya gimana perjuangan gw itu. Yang pasti gw udah membuktikan kepada semua orang bahwa gw mampu.

Lulus dengan nilai A mungkin buat sebagian orang biasa aja. Gak salah sih, tapi kalau gw sendiri, gw merasakan hal yang berbeda. Selama ini gw selalu berkata pada diri gw kalau semua orang pada dasarnya mampu melakukan berbagai macam hal secara bersamaan, bahasa kerennya sih multitasking. Makanya gw berani mengambil tanggung jawab sebagai Staff Sekretaris Umum Bagian Administrasi Lembaga Eksekutif Mahasiswa disaat gw masuk tingkat akhir dan gw pun sadar ketika gw harus dihadapkan pada kewajiban akademis gw membuat Tugas Akhir. Sekarang hipotesis gw terbukti. Gw berhasil menyelesaikan keduanya dengan baik. LPJ selesai, TA pun selesai. Dan yang lebih membanggakan adalah gw adalah angkatan 2010 yang pertama lulus di program studi Manajemen Keuangan. Bangga.

Bukan bangga atas kelulusan gw dan memandang rendah orang-orang yang masih berjuang dengan TA mereka, justru gw bangga dengan diri gw sendiri karena gw berhasil memberikan sebuah pembuktian bahwa gw mampu. Ya memang sih gak mudah, butuh kerja keras banget-banget. Makanya, malu dong kalo bikin TA masih males-malesan sedangkan lo gak punya tanggung jawab lain selain kuliah dan bikin bangga orang tua di rumah.

Sekarang, gw adalah seorang diploma. Hal yang membuat gw makin sadar akan tanggung jawab gw kepada diri sendiri adalah sebuah percakapan saat gw minta tanda tangan dosen pembimbing gw buat lembar pengesahan sidang komprehensif.

Gw: “pak, gimana sidang saya kemarin?”

Dospem: “lumayan, yang penting saudara bisa memberikan argumen untuk meyakinkan penguji. Mempertahankan apa yang saudara tulis itu udah lebih dari cukup. Masih banyak yang jauh lebih buruk dari saudara.”

Gw: “saya pasrah pak, dikasih nilai apa aja, yang penting saya udah usaha semampu saya. Pertanyaan penguji juga diluar perkiraan semua. Tapi Alhamdulillah bisa dapet A.”

Dospem: “iya, tapi saudara juga mesti ingat. Nilai A itu bukan sebuah jaminan kesuksesan, nilai B juga bukan sesuatu yang hina. Adakalanya seseorang menguasai bidang tertentu tapi malah dia mendapatkan nilai B, tugas dia adalah meyakinkan orang lain bahwa ia sebetulnya mampu. Dan orang yang mendapatkan nilai A, bagaimana dia mampu mempertanggjungjawabkan nilai tersebut di dunia kerja.”

--- hening---

Dospem: “ini bukan akhir, tapi ini adalah awal dari pintu kesuksesan saudara. Jalan saudara masih panjang. Masih panjang jalan terjal yang harus saudara lewati untuk sukses di bidang yang saudara sukai. Masing-masing punya minat yang berbeda. Pokoknya semoga sukses deh.”

Yah itulah sepenggal kisah perjalanan hidup gw. Masing-masing orang punya cerita hidupnya. Bangga dengan kehidupan sendiri adalah salah satu hal yang membuat kita bisa diterima oleh lingkungan. Gak akan ada yang mau berteman dengan orang yang putus asa. 

Commitment

Sumber: Google
Assalamu alaikum wr, wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Cukup lama gw mengabaikan blog gw ini, hampir satu tahun sejak postingan terakhir gw share ke publik. Memang, satu tahun terakhir ini gw merasa hari-hari gw sungguh monoton. Kegiatan kuliah dan organisasi menyita waktu gw ‘banget’

Commitment (Komitmen)
Kali ini gw akan membahas tentang komitmen. Masih ada benang merah dengan cerita satu tahun belakangan yang membuat gw kehilangan kesadaran untuk menulis. Untuk pengertian secara leterlek atau etimologi silakan cari sendiri ya. Karena sesungguhnya gw secara spontan aja menulis judul demikian.

Setelah gw demisioner dari kepengurusan Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) periode 2011-2012 gw kembali dihadapkan pada kegamangan. Sebenarnya sebelum gw mendengar ketukan palu sidang paripurna, gw udah direkrut sama Rudi, ketua Umum LEM yang baru buat bantuin dia. Masuk LEM lagi gitu lah, tapi gw udah nolak karena gw merasa pengabdian gw di LEM (saat itu) udah cukup. Gw mau menikmati masa-masa gw sebagai mahasiswa seperti awal-awal kuliah. Ya, sebut aja kuliah, belajar kelompok, main, ujian, lulus. Flat banget emang sih.

Singkat cerita setelah gw demisioner beberapa menit kemudian gw kembali diajak ngobrol serius di angkringan depan kampus sampai jam 12 malem kalo gak salah. Dengan berbagai pertimbangan selama 2 minggu akhirnya gw mengIYAkan. Saat itu jadilah gw seorang Staff Sekretaris Umum Bagian Komunikasi dan Informasi.

Awal-awal masa pengabdian gw dalam kepengurusan yang baru sebenarnya gak banyak yang gw lakukan. Gw cuma cari temen dan melanjutkan pekerjaan gw dari kepengurusan sebelumnya, karena pada kepengurusan sebelumnya gw dipercaya menjabat sebagai Ketua Departemen Komunikasi. Satu kebanggaan dari diri gw karena dalam kepengurusan 2012-2013 gw berhasil membuat sebuah website sederhana www.lem-app.com hihi..

Seperempat perjalanan, terjadi reshuffle. Gw ditempatkan sebagai Staff Sekretaris Umum Bagian Administrasi dan Rumah Tangga. Sedangkan partner gw di kominfo ditempatkan sebagai sekretaris umum. Gak masalah sih buat gw, karena gw berpikir saat gw udah mengucapkan janji gw sebagai pengurus, maka segala kebijakan ketua umum adalah resiko buat gw. Tantangan juga sih, walaupun gw merasa jabatan itu terlalu berat buat gw, terlebih gw mahasiswa tingkat akhir yang akan fokus untuk TA.

Saat gw menerima SK pengangkatan gw sebagai staff admin, kondisi LEM agak kurang baik. beberapa pengurus yang menghilang entah kemana, tapi gw percaya bahwa kondisi kaya gini gak akan berlangsung lama karena masih banyak pengurus yang berkomitmen melanjutkan tanggung jawab mereka. Seiring berjalannya waktu gw tau kalau gw naif.

Beberapa waktu berlalu, keadaan semakin parah. Yang masih punya komitmen Cuma beberapa orang. Program kerja pun berjalan seperti dipaksakan. Gw pun terkena dampaknya. Pekerjaan gw terbengkalai, surat-surat berantakan, rapat males-malesan. Terbesit dalam benak gw buat mengundurkan diri dari tanggung jawab ini tapi hati kecil berkata “bukan ini yang gw cari.” Gw mencoba bertahan dalam keadaan yang kurang baik sampai akhir kepengurusan, karena gw udah mengucap sumpah waktu pelantikan. Walau perjuangan gw selama satu periode ini penuh air mata.

Gw gak punya temen buat berbagi penderitaan. Semua teman-teman gw apatis dengan organisasi, walaupun mereka dulunya aktif dalam kegiatan-kegiatan kek gini. Gw selalu berusaha buat tertawa, walaupun pikiran gw pusing luar biasa. Mereka mengecilkan LEM, gw hanya bisa tersenyum, karena keadannya memang demikian. Gw yang bodoh saat itu (mungkin).

Tanggung jawab gw cukup berat, gw harus menghandle seluruh kegiatan administrasi (surat masuk, surat keluar, surat keputusan, surat mandat), memeriksa proposal kegiatan dan LPJ seluruh Senat Mahasiswa dan internal LEM sendiri, notulensi rapat, pengendalian inventaris, dll. Itu gw lakukan semuanya sendirian.

Kenapa sih lu mau gabung lagi di LEM padahal lu udah tau gimana keadaannya periode kemaren?
Gw cuma mau memberikan sesuatu buat kampus di saat terakhir gw jadi mahasiswa. Sesuatu yang bermanfaat. Gw mau di saat gw udah lulus, ada hal-hal yang bisa jadi kenangan buat adik-adik angkatan gw. Selain gw orangnya gak tegaan kalo ngeliat temen yang minta tolong, sebisa mungkin ya gw bantu. Dalam hal ini Rudi. Satu hal lain adalah gw yakin keadaannya akan berbeda. Gw percaya orang-orang yang bergabung adalah orang-orang hebat yang mampu menciptakan atmosfer organisasi yang baru.

Semua orang udah gak peduli sama tanggung jawab mereka, kenapa lu masih mau bertahan?
Gw cuma punya satu alasan, TANGGUNG JAWAB. Gw selalu berkata kepada diri gw kalau semua keputusan gw adalah sebuah prinsip. Saat gw udah mengatakan: “oke, gw bersedia” maka gw punya tanggung jawab moral untuk mempertahankan prinsip gw sampai tiba waktunya untuk mengakhiri tanggung jawab itu. Gw benci pada mereka yang meninggalkan tanggung jawab dengan seenaknya. Tapi apakah gw harus benci pada diri gw sendiri kalau gw melakukan hal itu??

Pada awal pelantikan gw udah mengucap sumpah dengan menyebut asma tuhan. Sebuah sumpah yang menurut gw bukan hanya seremoni protokoler saja, tapi itu adalah janji kita kepada tuhan atas tanggung jawab ke depan. Gw gak mau karena kegoisan gw di dunia, justru gw harus mempertanggungjawabkan sumpah gw di akhirat.

Gw sering mendengar bahwa tuhan tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Apakah ini sebuah ujian dari tuhan? Jika iya, gw yakin tuhan akan mengangkat gw ke derajat yang lebih tinggi apabila gw mampu melewatinya. Ujian untuk itu bukan?

Kemudian gw merasa, kalau tanggung jawab ‘segini’ aja gw udah menyerah bagaimana untuk tantangan ke depan. Kita sebagai manusia sudah diberikan mandat untuk menjalani kehidupan ini dengan segala tantangannya. Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan kita esok. Gw yakin tanggung jawab yang akan membuat kita kuat, tanggung jawab yang akan membuat kita semakin belajar, menemukan hal-hal baru dan pemecahannya. Yang terpenting apakah kita cukup kuat untuk survive dalam hantaman gelombang? Apakah kita masih punya cukup komitmen untuk meneruskan visi yang kita susun sendiri?

Gw sering berpikiran picik dengan teman-teman di bidang yang meninggalkan gw sendiri, meninggalkan tanggung jawab mereka dan menjadikan gw seakan-akan sebagai tumbal. Roda itu berputar, saat gw sekarang adalah mahasiswa tingkat akhir yang berperan ganda membantu menjalankan pemerintahan mahasiswa di kampus, saat itu juga mereka yang masih tingkat II menghilang entah kemana, tahun depan kalian akan merasakan jadi mahasiswa tingkat III. Semoga kalian diberikan kemudahan dalam menyusun Tugas Akhir.

Gw gak pernah menyalahkan mereka atau benci dalam artian nyata kepada mereka kok, gw yakin mereka juga punya cukup alasan yang kuat dan gw orang yang ‘gak tau apa-apa’ cukup jadi audiens. Gw hanya kecewa karena pada awal kepengurusan kita selalu mengikrarkan bahwa kita keluarga. Ya, gw hanya kecewa karena keluarga gw tega menginggalkan tanggung jawabnya dan menjadikan gw seakan-akan sebagai tumbal.

Kini semua telah berakhir. Gw berhasil menyelesaikan tanggung jawab gw di LEM dan tanggung jawab akademis gw. Perjuangan menyusun TA sambil menyusun Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) bukan hal yang mudah. Untungnya teman-teman BPH (Badan Pelaksana Harian) masih solid sampai akhir kepengurusan. Gw salut dengan mereka, mereka yang memotivasi gw untuk semangat manjalani tanggung jawab ini dan berkomitmen untuk menyelesaikannya.


LPJ Lembaga Eksekutif Mahasiswa (kerjaan gw)

Tugas Akhir gw


Ketukan palu 3x sebagai pengesahan diterimanya LPJ LEM dalam sidang paripurna pertanggungjawaban adalah jawaban atas doa-doa yang gw panjatkan selama ini. Sulit dipercaya akhirnya gw bisa demisioner, tanggung jawab gw selesai. Rasanya beban-beban di pundak lenyap seketika. Air mata itu pun berdesakan ingin menampakkan wujudnya. Haru. Satu faktanya adalah ketika peserta sidang saling berjabat tangan, gw sama sekali gak mau bersalaman apalagi berpelukan sama ex Ketua Umum gw, gw takut air mata yang gw tahan-tahan malah bocor di tempat. Karena ia paling tau bagaimana kondisi pengurus LEM dan bagaimana perjuangan gw selama satu periode. Gw malah menyibukkan diri bersalaman dengan peserta sidang yang lain.

Komitmen adalah konsistensi kita sebagai manusia. Tidak ada yang dapat dipercaya sepenuhnya dari apa yang terucap dari bibir seseorang, tapi aksi nyata dalam sebuah tanggung jawab atau komitmen adalah hal lain yang dapat orang nilai dan diakui. Tidak semua manusia bisa menjadi juara pertama memang, tapi gw yakin usaha-usaha terbaik yang kita lakukan akan memberikan dampak positif bagi diri sendiri.

Do your best!!!. Lakukanlah apa yang masih dapat kau lakukan. Walau tak banyak memberikan perubahan, namun dengan kegigihan dan kerja keras maka akan ada pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang membuat kita semakin cerdas. 

A Choice

Sumber: http://bit.ly/MHlY7y
Setelah sekian lama gw fakum dari aksi tulis menulis gak jelas di blog ini sekarang gw kembali mengajak jemari gw buat sedikit berolahraga lompat indah di atas keyboard komputer jinjing kesayangan gw. Beberapa waktu yang lalu setelah gw demisioner dari kepengurusan Lembaga Eksekutif Mahasiswa sebenernya jemari ini sudah merengek untuk diajak menari menciptakan sebuah gerakan indah namun agaknya otak gw atau feel gw untuk menulis sedang dalam zona nyamannya meringkuk di dalam selimut tebal dan enggan untuk menampakkan wujudnya. Gw pernah mendengar pada suatu kesempatan bahwa menulis itu adalah menciptakan sebuah kekuatan. Gw gak begitu meresapi makna dari kalimat tersebut tapi gw merasa sang motivator ada benarnya. Dalam akal sehat gw merasa bahwa kekuatan itu adalah kekuatan imajinasi untuk melihat kenyataan bahwa kita mempunyai teman walau hanya sekedar kotak elektronik bersistem operasi. Saat kita merasa bahwa keadaanlah yang menyisihkan kita dari jabatan erat persahabatan maka dengan menulis kita menciptakan kawan dan dunia yang nyaman untuk kita singgahi. Agak galau ya, mohon dimaklumi. Hehehe..

Kenapa judul postingan gw ini ‘a choice?’
Pilihan. Sketsa kenangan membawa gw saat masih abege dan mengenakan seragam putih abu-abu. Hehehe.. pada masa itu adalah masa paling mengesankan bagi seorang Zulfahmi Khairul Umam dan tentunya bagi remaja lain. Kenangan gw yang muncul adalah bukan ketika gw tertawa lepas bersama sahabat baik gw namun kenangan itu adalah saat gw belajar mengenai HAM. Bukan sok idealis mentang-mentang mantan anak lembaga, namun begitu lekat dalam alam bawah sadar gw tentang hak utama seorang individu adalah hak hidup. Lalu apa hubungannya dengan pilihan?

Banyak orang mengatakan dan gw pun setuju bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Setiap orang sangat berhak untuk hidup otomatis sangat berhak pula untuk memilih, bukan? Memilih bukan sekedar membalikan telapak tangan, terlebih pilihan itu berbobot 50:50 dan mempunyai resiko yang sama besarnya. Kita harus cerdas dan bijak untuk mengambil salah satu opsi dari masalah tersebut. Setiap orang juga berhak mengungkapkan pendapatnya di muka umum, bukan? Nah, hal itu yang agak sedikit mengganggu gw beberapa hari belakangan. Kebebasan bersuara kini agak rancu. Terlebih pada era kini media sosial begitu membumi dan terdengar gaungnya kemana-mana. Saat gw menuliskan sebuah kalimat pada akun pribadi gw, maka tulisan tersebut akan dibaca oleh orang yang kebetulan lewat atau yang ‘sengaja’ ingin mampir. Gw sering mengatakan bahwa adalah wajar dengan persepsi orang yang berbeda-beda sehingga menimbulkan multitafsir.

Pada suatu ketika gw menulis dalam akun twitter pribadi gw kalimat ini: Setiap orang berhak untuk memilih dengan siapa dia merasa nyaman.. Yg penting, senyuum.. J #testimoni. Agak menggelikan memang, ketika salah satu followers gw yang juga teman baik gw selama ini merasa terganggu dengan kicauan itu. Padahal sebenarnya kalimat absurd itu gw tulis untuk orang lain.

Sekali lagi gw katakan, pilihan. Sang empunya rasa berhak menganggap kicauan itu untuk dirinya karena memang tidak ada tujuan yang jelas untuk siapa testimoni tersebut. ia juga berhak untuk memilih untuk menanggapi atau mengabaikan. Pada akhirnya ia memilih untuk menanggapi, ia juga berhak untuk menggunakan kata-kata menyejukkan atau kata-kata pedas yang bertubi-tubi dan agak melukai hati. Pilihan. kini pada akhirnya tinggal gw yang harus menahan diri ekstra sabar melihat kicauan pedas bertubi-tubi—yang gw merasa—itu ditujukan untuk gw. #kepedean. Pilihan ya masbro. Anda juga berhak memilih untuk mengabaikan psikologis orang lain atau tidak. Hehehe.. J

Beberapa jam sebelum gw menulis cerita ini, gw mengamati sebuah wadah Kristal penuh kehidupan. Di dalamnya gw melihat makhluk kecil berkulit emas menari-nari dengan lincah mengepakkan sirip mungilnya. Pikiran gw seketika terbawa ke dunia khayal mencari sebuah jawaban mengapa mereka nyaman hidup dalam kotak kecil yang membatasi ruang gerak mereka. Nyaman? Ya, buktinya mereka bergerak lincah kesana kemari. Kalo bete kan pasti diem aja. Hehehe... Mereka juga hidup rukun hidup bersama tanpa saling menyakiti. Dari situ gw mendapatkan sebuah kesimpulan bijak karangan gw sendiri bahwa makhluk mungil itu tampak nyaman bergerak kesana kemari karena mereka mereka saling menguatkan dan saling pengertian. Seperti keluarga yang saling menguatkan ketika tertimpa musibah, misalnya.

Kembali lagi kepada sebuah pilihan. Hiduplah dengan damai. Kau tak melakukan apapun maka kau juga tak akan mendapatkan apapun. Kau melakukan sesuatu maka kau juga akan mendapatkan sesuatu. Berpikirlah lebih rasional dan jangan hanya mengutamakan emosional.. -- @fahmiirul.

Perhatikan Bahasamu

Jaman sekarang, siapa sih yang gak kenal istilah kepo. Saya rasa kosa kata anak gaul itu sudah mendarah daging dalam sanubari anak muda perkotaan, heheh.. sebenernya apa sih kepo itu? Hei, coba ketik deh kepo di google. Jadi katanya sih kepo itu artinya ingin tahu banget.

Oke, disini saya ingin sedikit mengkritisi sesuai judul postigan ini ‘perhatikan bahasamu’ heheh.. saya ingat sewaktu saya masih di semester pertama kuliah, saya mendapatkan mata kuliah bahasa Indonesia. Dosen bahasa Indonesia saya, ibu Titin Endrawati menuturkan bahwa bahasa itu ada bahasa yang baik, dan ada bahasa yang benar. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi, sedangkan Bahasa yang benar adalah bahasa yang tentunya sesuai dengan kaidah bahasa baku. Saya tidak akan membahas tentang bahasa yang benar karena itu bukan jobdesc saya. Hehehe..

Oke, bahasa yang baik sekali lagi adalah bahasa yang sesuai dengan situasi. Lalu apa benang merahnya dengan kepo? Baiklah, mungkin dewasa ini kita sering mendengar kata kepo keluar tanpa hambatan dari bibir manusia (yaiyalah masa bibir buaya) disegala penjuru negeriku Indonesia yang mahsyur permai dikata orang. Istilah kepo memang lucu, buat lucu-lucuan juga cocok. Namun dibalik itu semua pasti ada sisi negatifnya bukan? Masa??!! :O

Sekarang coba renungkan, kepo itu apa? Ingin tahu banget. Oke, coba bayangkan kalau di dunia ini gak ada orang kepo. Gak ada orang yang ingin tahu diluar batas kewajaran manusia. Apakah dunia akan semegah ini?  Apakah ilmu pengetahuan akan berkembang? Coba deh dijawab sendiri.

Saat ini saya merasa istilah kepo terkesan memojokkan orang. Kenapa? Pernah gak saat kalian bertanya suatu hal yang penting kepada seorang teman dan dia menjawab: kepo yaa/kepo deh/kepo banget deh lu. Monggo dijawab lagi..

Sekarang kalau setiap keingintahuan itu adalah ke-kepoan bagaimana kalo kalian melihat teman lagi nangis terus disamperin sama orang, kemudian orang itu bertanya 'kamu kenapa nangis?' apa kalian bakal bilang orang itu kepo?? Lalu apa bedanya kepo sama care??
terus saat di kelas ada murid yang bertanya kepada dosen, apa kita manggil dia kepo juga? terus apa bedanya kepo sama respect??
kemudian kalau kampus menuntut kita membuat something, lalu satu kelas semua diam dan gak bergerak melakukan apapun, ada satu orang yang memberanikan diri untuk mengatur supaya kelasnya gak doing nothing, apa kalian juga bilang dia kepo? terus apa bedanya kepo sama berinisiatif??

Oke, kembali saya mengingatkan untuk memperhatikan bahasamu.

kepo bisa menyebabkan orang kehilangan kepercayaan dirinya.
coba bayangkan kalo teman kita yang punya rasa ingin tahu yang tinggi, ia selalu bertanya setiap hal yang belum dimengerti da kemudian kepo.. kepo.. kepo.. lama-lama ia juga akan kesal dan mungkin juga akan down. It just my opinion tapi saya rasa ada benarnya juga.

kepo bisa menyebabkan sosialisasi terganggu.
apabila setiap orang bertanya pada dirimu dan kamu selalu menjawab: “kepo deh.” Lama kelamaan orang lain akan malas untuk bertanya soal apapun sama kamu. Orang lain butuh jawaban, selama bukan aib atau rahasia Negara apa salahnya sih berbagi. Siapa tau dengan berbagi informasi, kita juga akan dapat informasi yang berguna. Bertukar informasi dapat meningkatkan hubungan pertemanan lho. Coba deh bayangkan kalo orang diem-dieman gak ada yang bisa di diskusikan. Pasti akan membosankan.

Saya menulis semua ini bukan bermaksud untuk mendukung aksi kepo lho ya. Selama masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu privasi orang lain, saya rasa kepo itu sah saja. Beda halnya kalo kita sampai mengobrak-abrik isi file di memory ponsel seseorang, membaca semua sms yang ada di inbox orang lain, atau diam-diam membaca diary teman, itu namanya kepo yang dilarang. Hehe..

Itulah sedikit cuap-cuap saya tentang memperhatikan bahasa kita, dalam hal ini pengucapan kata ‘kepo.’ Semoga memberikan pencerahan bagi pembaca.


Follow me on twitter: @Zukhuu


Sumber:

Berawal dari Iseng

Ya, semua ini bermula dari keikutsertaan gw jadi panitia pelaksana alias organizing commite (OC) Konferensi V. keikutsertaan gw sebenernya cuma iseng aja buat mengisi waktu liburan yang cukup lama. Awalnya waktu Reza sms gw tengah malem buat ngajak gw jadi OC, gw males. Ngapain sih jadi OC segala, pasti bakalan sibuk sama rapat. Tapi setelah gw pikir-pikir akhirnya gw bersedia karena gw emang butuh kesibukan di waktu liburan gw ini yang akhirnya membuat gw sibuk berkepanjangan. Oke, tugas gw sebagai OC ya udah pasti rapat, rapat, dan rapat. Reza bilang gini: “lu gw jadiin OC freelance, jadi lu gw kasih kebebasan buat gak ikut rapat.” Hei, nenek-nenek pake behel juga gak bakal percaya. Mana ada panitia yang rapat semaunya. Gw tau ini cuma buat manipulasi gw aja supaya gw bilang oke, tapi gw bersedia bukan karena itu ya.. Seiring berjalannya waktu, karena beberapa hal akhirnya gw ditugaskan sebagai koordinator divisi HPD oleh bapak ketua Reza Mahardhika.

Gw gak bakal bercerita gimana sepak terjang gw sebagai OC Konferensi. Eaaaa.. hahaha.. bisa baca disini ajah: http://bit.ly/nlxdiU

Ternyata dari kepanitiaan konferensi itu gw dapet banyak pengalaman dan teman baru. Gw jadi lebih mengenal apa itu KMMI dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Selama ini gw hanya mengenal nama tanpa tau muka. Gw juga tau tentang isu-isu yang sedang hangat di kampus yang orang lain belum tentu tau, ya karena gw jadi OC. Dan yang bikin gw gak percaya adalah selepas acara konferensi gw direkrut buat mengisi kepengurusan Lembaga Eksekutif Mahasiswa. Waw, amazing banget. Siapa gw dan apa kemampuan gw yang bikin mereka yakin buat narik gw di LEM bidang VI (informasi dan komunikasi).

Usut punya usut dipilihnya nama gw karena kemampuan gw di bidang blogging. Karena rencananya LEM tahun ini mau bikin blog buat menyebarluaskan informasi. Ternyata kemampuan kecil gw bisa membawa gw ke titik ini. Yang biasanya gw nge-blog buat kepentingan pribadi yang isinya gak penting sekarang gw nge-blog dengan konten yang penting. Hahahaha…

 
acara pelantikan

Resmi sebagai pengurus LEM, nama gw tercetak di buku pedoman fopma lho. Hahahaha..
Sampe sekarang gw masih gak percaya dengan tanggung jawab gw yang baru. Dari dulu sobat gw Aul udah minta gw buat masuk di BADKO sebenernya, setiap gw ketemu dia, pasti ngomongin soal itu sampe gw selalu menghindar kalo ngeliat dia jadi kejauhan. Gw bersikeras menolak. Alesannya sih cuma satu, karena gw gak pede.

Terus kenapa gw bersedia jadi pengurus LEM?
Ya, mungkin gw baru dapet hidayah sekarang, gw pengen kemampuan gw yang secuil ini bisa bermanfaat bagi orang lain. bukan bermaksud sombong, tapi semoga dengan kalian baca tulisan gw ini bisa memberikan sedikit motivasi kalo tuhan memberikan kita segudang kemampuan tinggal kita yang memaksimalkan kemampuan itu sesuai minat kita. Dan kemampuan yang acapkali dianggap gak penting, kecil, kadang kita sendiri gak sadar, ternyata bisa memberikan kontribusi yang positif buat orang lain. semoga gw bisa bertanggung jawab dengan tugas ini, doakan saya yah. :)


Follow me on twitter: @Zukhuu

Pengalaman jadi OC Konferensi


Konferensi adalah forum tertinggi di lingkungan KMMI APP. Konferensi tahun ini adalah konferensi ke 5, oleh karena itu forum ini diberi nama Konferensi V KMMI APP. Dalam acara akbar ini, gw bertugas sebagai Organizing Commite atau yang biasa disingkat OC. Dibawah pengawasan Lembaga Legislatif Mahasiswa, kami para OC bertugas menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan secara teknis demi kelancaran acara ini. Kebetulah gw bertugas dalam divisi HPD. HPD adalah singkatan dari Humas Publikas dan Dokumentasi.

Banyak pro kontra dalam lingkungan KMMI sendiri tentang penyelenggaraan konferensi ini, maka tugas gw yang pertama adalah membuat sebuah blog yang isinya menjawab berbagai permasalahan, isu, dan tanggapan miring dari berbagai pihak yang tidak menyetujui adanya konferensi. Bisa dilihat di sini.

Gw bikin blog di kostan reza sampai tengah malam dan Alhamdulillah tanggapannya positif. Dibuktikan dengan grafik statistik dan page views  yang terus naik.  Gw juga bertugas bikin pamflet dan poster sebagai media publikasi. Belum cukup disitu, gw juga harus ngirim sms ke semua anggota KMMI (semua anak APP) yang isinya informasi tentang adanya konferensi, tapi kali ini gw dibantu sama Ayu n Achi.
 pamflet bikinan gw

Hari H konferensi
Hari pertama, awalnya adem ayem aja. Gw punya firasat gak enak waktu gw ke lembaga buat ngambil laptop. Disana gw ketemu kumpulan anak salah satu UKM yang lagi ngumpul di depan sekret mereka, rame banget. Dan kerusuhan dimulai saat alumni APP sekaligus ketua komisi XI DPR RI naik ke podium buat orasi ilmiah. Salah seorang oknum (kami manggilnya saudara peninjau)yang ‘agak kurang’ punya etika berteriak-teriak menghujat anggota DPR itu. Sontak beliau marah dan dengan dibantu keamanan, saudara peninjau itu ditarik keluar.

Malam harinya acara kembali ricuh. Pelaku utamanya masih sama. Penyebabnya karena pimpinan sidang menyekorsing sidang sampai esok hari kerena waktu sudah lewat dari jadwal padahal keputusan belum didapat. Chaos tak bisa dihindari, padahal waktu sudah menunjukan pukul 00:30 WIB. Pimpinan sidang diamankan di sebuah tempat rahasia. Gw keluar auditorium buat ngambil foto dan gw kaget karena disana sudah berkumpul banyak orang yang gak tau dari organisasi mana aja. Karena pimpinan sidang menghilang konsekuensinya para OC ditahan dikampus. Tak satupun dari kami yang boleh pulang padahal kami sudah sangat lelah.

chaos di dalam Auditorium

Saat ricuh, gw dengan pedenya ngambil foto dan saudara peninjau itu marah. “hei, dari tadi foto-foto melulu.”
Kembali dengana pedenya gw bilang: “gw HPD.” Tapi gw langsung ngacir ke back stage karena gw takut dia marah dan merebut kamera pinjaman yg gw pake buat foto-foto -___-

Gw lupa jam berapa pimpinan sidang akhirnya balik lagi ke kampus buat menyelesaikan pertikaian ini, akhirnya mereka dengan organisasi yang mengepung aula itu melakukan konsolidasi di depan perpustakaan. Gw sih berharap saudara peninjau dan kaki tangannya itu diisengin tante dan om penunggu perpustakaan tapi taunya enggak, yah sayang sekali.

Perbincangan itu terus berlanjut sampai pukul 04:00. Selama itu kami para OC harus menunggu dan tidur di emperan auditorium udah kaya korban bencana alam. Otomatis kami sahur dengan lauk seadanya dan segelas air mineral. Sungguh menderita. 



Itulah pengalaman gw jadi OC konferensi. Acara yang masih jadi polemik dan kontroversi di lingkungan KMMI APP. Tapi ambil positifnya aja, dengan ini gw jadi tambah temen n tambah pengalaman pastinya, jadi hidup gw gak datar-datar amat.

Sekian dulu pengalaman gw jadi OC konferensi. Masih banyak hal menarik yang gak akan gw lupain tapi sukup segini aja yang gw bagi.

See ya..

Friendship

Lagi-lagi blog ini hadir dengan curhatan gw. Tapi gapapa kan ya, gw lagi webe buat yang namanya nulis cerita bagus. Masih inget postingan gw tentang Gank UNO waktu itu?? Postingan ini adalah lanjutan ceritanya.

Gw gak nyangka kalo gw akan punya sahabat-sahabat yang kompak. Jujur awalnya gw pikir kuliah itu adalah ajang pencarian nilai dalam individualisme, tapi ternyata gw salah. Gw bertemu dengan anak-anak yang seru dan kompak. Berawal dari kebersamaan kita di dufan, yang awalnya biasa-biasa aja tapi kok lama-lama makin akrab ya. Kita udah mulai terbuka satu sama lain tentang apa yang kita rasain. Kita terbuka setiap ada masalah di sekitar kita, bertukar pikiran dan sama-sama mencari solusi. Seringnya kita seru-seruan main UNO makin menambah erat kebersamaan kita, lambat laun kita pun mulai menyapa dengan sapaan ‘sahabatku.’
tweetnya Adhi. (@darmint11)

Persahabatan ini indah, meski kadang ada batu kerikil entah siapa yang menebar. Gw sempet nyebut kita adalah Gank UNO, dengan anggota Adhi, Ayu, Azmi, Cika, Febri, Grace, Putri, Kimau, Reza, dan terakhir gue sendiri. Tapi dari semua itu Cuma grace yang gak pernah ikutan main, no problem.

Pada suatu hari gw upload foto di facebook dengan nama album Gank UNO. Kalian tau apa yang terjadi? Beberapa saat kemudian Reza sms gw, wah, ada apaan nih, pikir gw.
Reza: asslm mi, nama albumnya diganti donk jangan genk UNO.
Gw: lah, kenapa emang?
Reza: karena persahabatan kita lebih dari sekedar Gank dan lebih berharga dari selembar kartu UNO.
Sumpah gw spechless di TKP, gak ngerti mesti ngomong apa. Awalnya Gw berpikir ini hanyalah ungkapan kebahagiaan sesaat karena abis seru-seruan main UNO di kelas. Tapi lambat laun gw semakin sadar terlebih setelah reza nyebar sms tentang persahabatan, gw terharu sampe mau nangis, akhirnya gw post di twitter:

urutannya dari bawah ke atas yaa..

Eits, tungu dulu. Kami dekat tapi kami tak menutup diri dengan lingkungan lho, apalagi gw. Gw punya prinsip bahwa gw berteman dengan siapapun kecuali orang yang gak mau berteman sama gw.

Mereka adalah sahabatku, masing-masing dari mereka gw yakin punya sahabat terbaiknya dalam kehidupan mereka. Mungkin terlalu prematur gw bikin postingan kaya gini, tapi gw cuma mau share kalo gw punya sahabat baru dan mereka adalah orang-orang terbaik di sekitar gw saat ini.

friends will come and friends will go, the seasons change and it will show, i will age and so will you, but our friendship stays, strong and true (@zamarzamar )

Sekian dulu yah.. Follow me on twitter: @zukhuu

Untitled


Cukup lama aku bersandar pada dinding rapuh. Kau tahu, untuk beranjak dari sini tak semudah menghirup udara saat kau bebas. Ya, itu hanyalah dinding seperti halnya kau melihat jejakku ditanah.
Tapi bagiku, itu adalah sebuah harapan tinggi yang sulit untuk ku gapai. Dinding ini begitu rapuh yang jika kupaksakan untuk kugapai, aku yang akan menjerit.
Cukup kupendam hasratku, penuh harap. Dan kembali ku sadari aku bukanlah kesatria yang mampu menggapai dinding harap yang kupandangi.
Jika kau bertanya, untuk apa kupandangi dinding itu? Untuk apa aku berhasrat menggapainya?
Akan kujawab. Aku ingin melepaskan seorang puteri dari belenggu kesedihan. Kini ia berada dibalik dinding itu. Jika kupaksakan, bukan hanya diriku yang menjerit tetapi sang puteri juga akan merasa sakit. Ah, aku tak sanggup jika harus melihatnya sakit. Tapi aku juga tak mampu membebaskannya dari belenggu ini. Ia tak menginginkan diriku.
Biarlah, aku akan mencari seorang kesatria yang mampu menaklukkan hati sang puteri, membawa ia keluar dari kesedihan, dan membuatnya bahagia.

Aku juga akan tersenyum melihat mereka tertawa.  


END

(follow me on twitter: @ZukHuu)

    Pengikut